PENGANTAR: Pembaca dan pemandang Baltyra, selama bulan Ramadan akan tersaji tulisan sangat pendek berseri tentang hubungan harmoni antara Islam dan Barat. Tulisan hanya ini ingin menumbuhkan sebuah pengertian bagi siapapun yang ingin mengerti, bahwa antara kedua peradaban itu lebih banyak terjadi harmoni, kesamaan, persaudaraan dan kaitan sejarah kental antara Islam dan Barat. (Penulis).
“Nggak kenal, ya nggak sayang…”
MEMBICARAKAN hubungan Islam dan barat, selalu diwarnai dengan perselisihan, permusuhan juga prasangka. Untuk mencari kesamaannya sebagai jembatan saling pengertian, selalu terhalang oleh ketidaktahuan antara dua pihak. Pihak Islam selalu memandang dunia barat dengan kecurigaan, yang diselimuti rasa pengalaman pahit serta kekecewaan atas perlakuan tidak adil barat pada dunia Islam. Misalnya pada masa kolonialisme barat yang sebagian besar terjadi pada masyarakat Islam.
Lalu bagaimana dengan kecurigaan dunia barat? Wah, kalau ini bisa dilihat kasat mata dengan nuansa serba negatif dalam cara barat memandang Islam serta kaum muslim. Sama halnya dengan pandangan dunia Islam, barat juga penuh prasangka dan ketidaktahuan bila menilai Islam sebagai sebuah agama, peradaban dan juga sebagai “dunia lain entah berantah”.
Hubungan kedua peradaban besar, membuat dunia selalu menjadi kurang sehat, kurang harmonis, kurang enak dan kurang-kurang lainnya. Mengapa bisa begitu? Bayangkan saja, baik Islam maupun barat adalah dua komunitas besar dengan jumlah pengikut sampai sepuluh digit jumlahnya.
Bila hubungan tersebut kurang sehat dan sakit-sakitan, lalu didiamkan saja sampai tunggu mati? Tidak juga! Banyak pihak yang ingin agar ketegangan itu mereda. Kalau bisa hilang sama sekali, meski hal itu masih jauh dari harapan. Tidak mengherankan, banyak lembaga atau pribadi yang punya inisiatif untuk membuat jembatan yang kuat. Tujuannya supaya kedua pihak bisa saling bertemu. Bertemu dalam bidang apa saja, yang penting saling jumpa. Daripada tak saling sapa dan diem-dieman sampai akhirnya diam beneran alias mati.
Semua bidang dikaji dan dikembangkan, untuk mencari titik temu. Siapa tahu bisa ada kesamaan. Namun ada sebuah bidang yang jarang, bahkan tidak pernah dibicarakan sama sekali untuk mencari kesamaan antara Islam dan barat. Bidang apa?
(bersambung)








Halo Bapak Ilham, Bapak JC, Bapak Sumonggo, Ibu Kornelya (kok manggilnya Karaeng, kayak bangsawan Bugis aja, he he he…), Ibu Tammy, Ibu Peony, Mas Bagong, Chie, Ibu Sophie dan Mas Handoko. Terima kasih atas apresiasinya. Memang tulisan ini dibuat pendek, karena berkaitan satu dengan lainnya, secara serial 30 hari. Mohon maaf kalau kalau ada yang terganggu dengan teknis penyajiannya. Kamsiah. Oh ya, saya suka dengan komentar Mas Handoko, bahwa barat dan Islam punya tujuan yang sama, memanusiakan manusia. Berat banget ajaran ini. Simpel tapi susah. Mirip Mimbar Kepercayaan di hari Rabu malam jaman TVRI dulu, yang dibawakan oleh S. Puguh atau Zahid Hussein. Rahayu…
Sejauh Timur dari Barat, sedekat Barat dari Timur. Nguwongke=memanusiakan, beda dengan mankind! Adalagi: tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina! (Orient, orientalism). Jadi?! Otak di Barat, otak saja gak cukup! Budi, rasa-roso di Timur, gak cukup juga! Mesti memanusiakan manusia, pasti dan yaakkk! Salam!
Dari kemarin dicoba buka artikel pak ISK yg ini, tapi macet terus. Baru sekarang bisa dibuka. He he artikelnya ngagarantung kieu pak ISK. Bikin panasaran saja. Ayo lanjuttttttt ke bagian 3.
Makasih Sophie. Nanti ta’ panjangin tulisannya pada seri-seri berikutnya (sepuluh keatas). Abis kasihan kalo panjang-panjang.