Banggaku Untuk Bintangmu

admin Sunday, 23 August 2009

| | 4 Comments |

Lembayung – SOLO the spirit of java 

Yen ing tawang ono lintang…, cah ayuuu…aku ngenteni tekamu….
 
Terdengar suara langgam jawa dari radio tua Lik Gembus. Sang empunya radio terlihat mat tenan sangat menikmati alunan nada itu sambil terus mengipasi tungku arangnya. Saya pun terbawa suasana syahdu dan hening itu. Kebetulan angkringan malam itu juga sangat sepi. Hanya ada saya dan seorang pembeli yang lain. Kelihatannya dia mahasiswa baru karena dari matanya masih jelas tergambar binar-binar semangat dan harapan.
 
 
”Lik, mana traktirannya nih, kemarin kan sudah menang itu lomba tarik tambang di acara tujuh-belasan to? Saya sampai kehabisan suara nyorakin sampeyan jhe!” ucap saya mengganggu keheningan.
 
Lik Gembus mesam-mesem sambil mulutnya terus bergerak-gerak mengikuti syair lagu langgam jawa itu. Waduh, gawat ini, belum pernah saya dicuekin oleh Lik Gembus seperti ini. Pasti ada yang aneh.
 
”Lik, sampeyan anget yo? Kok ditanya cuma mesam-mesem terus dari tadi? Jangan-jangan sampeyan itu jatuh cinta lagi ya? Hayooo… sama siapa??” cerocos saya.
 
”Heishhh… Mbak Cenil itu kok ya ada-ada saja. Jatuh cinta opo to. Lha wong saya itu sedang seneng gini lho. Seneng banget, tapi ya jelas bukan karena jatuh cinta. Cinta saya cuma buat ibunya Kenthus seorang. Kembang desa jhe dulu itu…”
 
“Lha iya to Lik, pasti seneng gara-gara bisa ikut memperkuat squad tarik tambang to? Terus menang to? Seneng to? Iyo to?” tanya saya sambil merebut kipas dari tangan Lik Gembus. Gantian saya yang mengipasi tungku itu, agak cepat, agar apinya membesar karena malam mulai terasa lebih dingin.
 
”Weeeiiss…, lha ya jelas saya seneng karena itu to Mbak. Karena sakit pinggang saya sudah beres, sembuh total, jadi saya bisa ikut tim inti tarik tambang, dan menang juara satu. Jan rasanya itu seneeengggg… banget, terharu, bisa ikut memeriahkan ulang tahun kemerdekaan bangsa kita, Mbak” jawab Lik Gembus.
 
Saya manthuk-manthuk, salut akan pengejawantahan nilai-nilai nasionalisme ala Lik Gembus. Mata saya sepintas melirik pemuda di seberang saya yang sedang asyik meniupi jahe panas yang masih belum berkurang sejak dipesan tadi. Hm…, apa mahasiswa baru ini juga punya semangat yang sama dengan Lik Gembus ya?
 
”Mahasiswa baru ya, Mas?” tegur saya tiba-tiba sehingga membuatnya kaget. Air jahe muncrat sedikit ke hidungnya yang besar dan bulat itu karena tiupan kekagetannya.
 
”Iya, Mbak. Teknik Industri, baru saja selesai orientasi.” jawabnya sambil menyeka hidungnya dengan punggung tangan.
 
Pede sekali orang ini. Padahal saya hanya menanyakan kalau apakah dia mahasiswa baru tapi ternyata malah melengkapinya dengan data jurusan. Mungkin masih tersisa euforia kebanggaan bisa diterima di universitas negeri ini. Itu bagus, semangat yang meluap, mengarah pada tuntutan idealisme, sangat khas anak muda. Saya biarkan saja dia terus melanjutkan aktivitasnya, meniupi jahe panasnya.
 
”Lik, wis, ndak usah mesam-mesem terus gitu to, saya kok jadi merasa aneh melihatnya” protes saya ketika saya melihat Lik Gembus masih mesam-mesem sambil melihat ke langit yang pekat tapi bertabur bintang-bintang terang.
 
”Pun panjenengan, makan dan minum situ sepuasnya Mbak. Mas, kamu juga, makan minum sepuasnya. Malam ini semua gratis, tis, tis….” jawab Lik Gembus tanpa memalingkan wajahnya dari langit pekat berbintang itu.
 
”Elho, ada apa ini? Apa ini hari terakhir sampeyan jualan angringan to Lik? Selama ini selalu merugi ya? Perasaan saya nggak pernah ngutang lho. Selalu bayar jreng. Kenapa Lik? Apa mau banting setir jadi tukang pijit biar bisa pegang-pegang badan orang? Hahaha… Ono opo to, Lik?” tanya saya keheranan dengan pernyataan dia tadi.
 
”Hush Mbak Cenil ini ada-ada saja. Ndak, saya ndak berhenti jadi tukang jualan angkringan kok. Saya cuma mau merayakan saja, berbagi perasaan senang saya sama panjenengan-panjengan ini. Itu lho mbak, panjengan kan tahu kalau kemarin itu saya menang lomba tarik tambang to? Nah, itu rasanya saya kan seneeenggg…. banget Mbak, Mas…, bangga tenan. Ning, tapi, perasaan itu ternyata ndak ada apa-apanya ketika melihat anak lanang saya, si Kenthus, pulang dari upacara tujuhbelasan di sekolahnya sambil membawa piala besar.
 
pialaPiala, Mbak. Si Kenthus juara satu lomba cerdas tangkas mengenal pahlawan nasional. Wah jan Mbakkk…, itu rasanya kok ya mongkok ati saya. Lebih dari sekedar senang dan bangga, tapi juga terharu. Punnnn…, ndak bisa dilukiskan dengan kata-kata, Mbak. Rasanya saya mau saja jualan angkring 24 jam tanpa tidur supaya bisa menyekolahkan si Kenthus dan melihat thole itu selalu membawa piala-piala yang lain ke rumah… Kenthus itu baru kelas dua SD Mbak, dan itu piala dia yang pertama. Saya kan tidak berlebihan to Mbak, kalo mengharap Kenthus akan menjadi anak yang pinter dan berprestasi? Rajin membawa piala dan piagam penghargaan? Meskipun bapaknya cuma pedangan angkringan… tapi bapak kere ini lak yo boleh berharap to, Mbak?” tanya Lik Gembus kepada saya.
 
Saya terdiam. Diam beberapa saat mencoba menelaah satu persatu kalimat yang runtut dan sarat emosi itu. Kebanggaan orang tua berada pada pundak anak-anaknya. Konsep standar yang seharusnya dari dulu saya pahami. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Selama ini saya hanya merasa bahwa saya bertanggung jawab pada diri saya sendiri. Well, khas egoisme darah muda. Tak pernah terlintas bahwa jika saya berhasil, maka orang tua saya akan lebih bahagia daripada kadar kebahagiaan saya sendiri. Dan jika saya gagal, maka kegagalan itu akan terasa jauh lebih pahit bagi orang tua saya.  Maklum, saya belum pernah jadi orang tua, jadi konsep seperti ini masih sering terlupa dan terpinggirkan disela ego-ego saya.
 
”Makanya Mas, jadi mahasiswa yang rajin ya, jangan cuma runtang-runtung ikut demo sana-sini tanpa tahu jelas apa dan siapa yang dibela. Jangan gara-gara ikut demo pula jadi ndak pernah masuk kuliah, nilai jeblok, dan kehilangan motivasi akademis. Hahaha… nasehat dari senior nih… wajib kamu dengerin” kata saya pada mahasiwa baru itu. Yang saya ajak bicara cuma manggut-manggut sambil mulut penuhnya terus mengunyah nasi kucing entah sudah bungkus yang keberapa, sambil sesekali meniupi jahe panasnya yang bagi saya masih terlihat belum berkurang sedikit pun. Saya jadi tersenyum, geli dengan diri saya sendiri. Nasihat senior untuk juniornya? Argghh… itu sih sebenarnya protes untuk diri pribadi.  
 
”Lik, ya jelas setiap orang berhak punya mimpi dan harapan. Kalau sudah tidak punya harapan dan motivasi ya namanya sudah tidak hidup lagi. Sudah mati itu. Tapi apa ya anak sampeyan tahu kalau sampeyan itu bangga sekali dengan prestasinya? Karena kalau tidak, bisa saja dia tidak termotivasi untuk lebih maju lagi. Apakah dia juga punya pikiran bahwa dia akan punya kesempatan untuk terus mengejar cita-citanya, mimpinya, bahkan jika itu setinggi bintang-bintang di langit sekali pun? Ataukah dia merasa bahwa prestasinya hanya sebatas ruang pandang matanya saja?” kata saya dengan tempo sangat pelan, seakan-akan saya juga sedang mengatakannya untuk diri saya sendiri. Refleksi…
 
Lik Gembus tersenyum, bersahaja tapi penuh semangat. ”Saya yakin Mbak, anak saya pasti bisa meraih cita-citanya, setinggi apa pun itu. Dan yang lebih saya yakini, bahwa saya pasti bisa menghantarkan anak saya ke sana.”
 
Keyakinan Lik Gembus, semangat dan harapannya membuat saya malu. Saya mendongak, mencari cercah sinar bintang. Diiring sayup langgam Jawa yang saya tidak tahu judulnya, hanya sepintas terdengar syair ”aduh-aduh biyung” saya terngiang suara ibu saya,
 
”Sekolah yang bener yo, Ndhuk…”
 
 

Lby (19/08/09; 14:31)

 

4 Comments for “Banggaku Untuk Bintangmu”

  1. Bagong Julianto

    Yung: apa ada beda antara:
    1.binar-binar pandangan mata mahasiswa Si baru dan S2 (danS3)? Walau di belakang kacamata bisa diterawang lho?!
    2.mesam mesem’e Lik Gembus karena si Kenthus juara sebut pahlawan dan Lik Gembus menang tarik tambang?!
    Lhah kalau yang ketiga ini cuma yang sudah ngalami yang bisa jawab, yang lajang tahunya dari mbaca-mbaca saja: senyum sumringah karena menang lomba tarik tambang dan senyum bungah karena boyok’e sembuh hingga bisa tarik jarik Bulik Gembus…… Wis….

    Yung, diedit dudu langgang ning langgam……

  2. Sumonggo

    Kalau versinya dagelan Marwoto atau Kirun, “Yen ing tawang ana lintang cah ayu …, aku ngenteni randhamu …”

  3. non sibi

    No comments. Jadi gerah nih padahal saat ini angin sejuk bertiup sepoi-sepoi.

  4. alexa

    Somehow aku jadi merasa seperti Lik Gembus…hem, setiap orangtua pasti merasa begitu ya ke anaknya. Angkringan depan omah- MJ-mbahku isinya koq laki semua ya jadi gak pernah ikutan nangkring.Enak juga tuh kayaknya nangkring di angkringan – clonemu bilang kangen ama angkringan tuh di kamarku.

Leave a Reply

Log in | Designed by Gabfire themes